Jakarta, Indonesia – 11 Desember 2025 – Sebuah kolaborasi riset diluncurkan untuk menjawab pertanyaan penting bagi sektor angkutan barang komersial Indonesia: Berapa sebenarnya total biaya untuk memiliki/Total Cost of Ownership (TCO) dan mengoperasikan truk atau bus listrik dibandingkan dengan yang berbahan bakar diesel. Studi ini akan mengkaji bagaimana insentif pemerintah, kemajuan teknologi, dan kondisi operasional di lapangan memengaruhi total biaya kepemilikan kendaraan komersial listrik sepanjang masa pakainya di Indonesia.

International Council on Clean Transportation (ICCT), Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM UI), dan PT. VKTR Teknologi Mobilitas meluncurkan kerjasama di antara ketiga lembaga hari ini di Universitas Indonesia, Jakarta, bersamaan dengan seminar publik tentang “Kerangka Kebijakan Fiskal untuk Kendaraan Komersial Tanpa Emisi di Indonesia”.

Penelitian ini akan mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi TCO kendaraan komersial listrik dibandingkan dengan kendaraan konvensional, dengan mempertimbangkan aspek kebijakan dan teknis.

“Memahami dinamika biaya di dunia nyata ini sangat penting untuk merancang kebijakan yang dapat mempercepat transisi menuju kendaraan komersial tanpa emisi di Indonesia,” jelas Ray Minjares, Direktur Program di ICCT. “Transisi Indonesia menuju kendaraan komersial tanpa emisi merupakan langkah penting untuk meningkatkan ketahanan energi, meningkatkan daya saing industri, dan melindungi kesehatan masyarakat.”

Meskipun memiliki biaya operasional yang lebih rendah, tetapi terdapat sejumlah tantangan yang signifikan untuk membuat masyarakat beralih menggunakan kendaraan komersial listrik. Biaya pembelian awal yang tinggi, nilai jual kembali yang tidak pasti, dan terbatasnya pilihan pembiayaan merupakan hambatan utama di pasar Indonesia di mana truk dan bus listrik dapat berharga dua kali lipat dibandingkan kendaraan diesel.

Meskipun truk dan bus komersial hanya sekitar 6% dari armada nasional, tetapi mereka mengkonsumsi 57% bahan bakar dan berkontribusi secara tidak proporsional terhadap emisi akibat transportasi, yang sebagian besar disebabkan oleh ketergantungan pada bahan bakar bersubsidi.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang tiga faktor penting yang membentuk kebijakan yang efektif:

  1. Perbandingan TCO antara kendaraan komersial tanpa emisi dan kendaraan diesel
  2. Dampak kebijakan fiskal saat ini terhadap TCO kendaraan komersial Listrik
  3. Segmen kendaraan yang paling siap untuk elektrifikasi saat ini

Alin Halimatussadiah dari LPEM FEB UI dalam acara peluncuran tersebut menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menangkap nilai ekonomi melalui pengembangan manufaktur lokal bagi kendaraan bus dan truk listrik. “Momentum saat ini mendukung peralihan kendaraan komersial dari konvensional ke listrik. Banyak truk atau bus konvensional yang sudah tua dan perlu diganti. Selain itu, banyak daerah yang tengah memperluas layanan transportasi publik dengan menggunakan bus sebagai bagian dari program dekarbonisasi mereka”, jelasnya. Sehingga menurut Alin, permintaan yang nyata membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menangkap manfaat ekonomi dari pengembangan manufaktur kendaraan listrik berat di dalam negeri.

Sementara itu, V. Bimo Kurniatmoko, Direktur VKTR, memaparkan bahwa kebijakan fiskal dapat membuat produksi kendaraan komersial listrik dalam negeri lebih kompetitif. “Insentif fiskal akan mempermudah produksi kendaraan komersial listrik di dalam negeri, dan juga mengendalikan total biaya kepemilikan baik biaya yang dibutuhkan di awal maupun operasional. Selain itu, juga mempermudah akses suku cadang bagi pemilik kendaraan”, tambahnya.

Selain dekarbonisasi, perluasan armada kendaraan komersial tanpa emisi dapat memberikan manfaat yang lebih luas, seperti kualitas udara yang lebih baik, jalan yang lebih aman, dan fondasi bagi zona rendah emisi serupa di kota-kota besar.

Tentang PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR – dibaca “Vektor”) adalah pelopor elektrifikasi segmen kendaraan komersial di Indonesia. VKTR resmi mencatatkan saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 19 Juni 2023, menjadi emiten kendaraan listrik komersial pertama di Indonesia. VKTR berkomitmen mempercepat mobilitas berkelanjutan melalui inovasi manufaktur dan kemitraan strategis dengan produsen kendaraan listrik global terbaik.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: 
Investor Relations VKTR 
ir@vktr.id

Untuk pertanyaan media, silakan hubungi:
Corporate Communications VKTR
media.relations@vktr.id